images

Lebih Berbahaya Covid-19 Varian Delta atau Mu?

KFTD – Salah satu mutasi covid-19 yang belakangan ini membuat was-was adalah varian Mu. Varian ini muncul pertama kali di Kolombia dan di tengah tingginya kasus penularan covid-19 varian Delta.

Sebenarnya seberapa berbahaya sih varian Mu dan apa bedanya dengan varian Delta?


Covid-19 Varian Mu


Kasus penularan covid-19 varian Mu kini tengah merebak di Kawasan Amerika Selatan. Penyebaran kasusnya bersamaan dengan melonjaknya kasus varian Delta.

Varian Mu atau B1621 ini diketahui pada Maret 2021, dan mulai menjadi pantauan World Health Organization (WHO) sejak 30 Agustus 2021. Hingga kini, sudah 40 negara yang terdeteksi mengalami penyebaran varian Mu.

Pada dasarnya, varian Mu masuk kelompok Variant of Concerns (VoC). Varian ini menyebabkan penurunan kadar antibodi baik karena infeksi maupun vaksinasi. Sehingga bisa dikatakan, varian ini kebal pada pengaruh vaksin.

Dilansir dari CNNIndonesia, varian Mu membawa setidaknya 21 titik mutasi di materi genetik SARS-COv-1, Sembilan diantaranya berada di lonjakan protein virus.

Sampai saat ini, tingkat kasus penyebaran varian Mu di dunia berada di bawah 0,1 persen. Di Indonesia, kasus ini belum terdeteksi.

Varian Mu ternyata memiliki risiko penyebaran yang tergolong rendah. WHO juga mencatat belum ada peningkatan kasus varian Mu yang melonjak.

Gejala yang paling sering muncul adalah suhu tubuh tinggi, batuk yang terjadi terus-menerus, hingga kehilangan ketajaman indera perasa atau penciuman.

Covid-19 Varian Delta


Covid-19 varian Delta pertama kali ditemukan di India. Varian ini terkenal dengan kemampuannya menginfeksi dengan mudah dan cepat.

Varian dengan nama lain B16172 ini dilaporkan mendominasi kasus infeksi di dunia. Hingga kini sudah ada 40 negara yang terinfeksi, termasuk Indonesia.

Pada dasarnya, varian Delta masuk ke dalam kelompok Variants of Interest (VoI). Yakni virus yang memiliki kemampuan genetik yang dapat mempengaruhi karakteristik virus.

Diantaranya dapat mempengaruhi tingkat keparahan penyakit, pelepasan kekebalan, penularan, hingga kemampuan menghindari diagnostik maupun pengobatan.

Varian Delta lebih berpotensi menyebabkan penularan dalam jumlah besar atau klaster. Karena itu lah tak heran, kasus penularan varian Delta ini melonjak drastis pada  Juni-Agustus 2021 di Indonesia.

Tingkat gejalanya pun lebih parah daripada varian pertama. Pasien infeksi varian Delta kebanyakan memerlukan perawatan serta pasokan oksigen, di samping komplikasi

Gejala yang sering dirasakan pasien varian delta adalah sakit kepala, sakit tenggorokan dan pilek hingga anosmia (kehilangan ketajaman indera penciuman dan perasa).

Content Writer: Rida Ayu Nabila
Graphic Design: Ayuni Widya K